Masuk

Ingat Saya

Terorisme Bukan Aksi Damai

Tujuan pelaku terorisme

Terorisme acap kali muncul dalam berita di televisi mau pun koran. Tak hanya itu, bahkan kelompok ISIS sempat dengan gencar melakukan propaganda melalui youtube. Langkah yang terbilang berani ini tak terelakan telah membuat masyarakat resah. Selain itu, di Indonesia tepatnya di Jakarta pada 13 Januari silam, menurut keterangan bbc news diklaim oleh ISIS. Di Solo pun demikian. Pelaku bom bunuh diri di Solo diduga kuat sebagai kaki tangan Bahrun Naim otak bom Thamrin Jakarta.

Melihat fakta yang demikian, premis bahwa aksi teror bom di Indonesia  merupakan perbuatan ISIS menjadi kuat. Lalu, mengapa ISIS melakukan tindakan demikian? dengan sengaja melakukan tindakan mencelakai orang lain bahkan menghilangkan nyawa.  ISIS atau Islamic State id Iraq and Syria memiliki tujuan (sesuai kutipan dari majalah Dabiq):

Benderanya yang diberkati … berkibar diujung timur dan barat bumi, menyemaikan benih-benih kebenaran dan keadilan Islam di seluruh dunia, dan mengakhiri kepalsuan dan tirani kaum jahiliyah (tersesat) sekalipun Amerika Serikat beserta koalisi menolaknya.

Secara gamblang, tujuan mereka adalah menyebarkan agama Islam sesuai yang mereka pahami di seluruh  dunia, atau singkatnya menguasai dunia. Tak lagi dapat dihindarkan bahwa selama ini pelaku bom bunuh diri di Indonesia diketahui beragama Islam, dan kali ini diperkuat dengan jaringan ISIS yang membenarkan tindakannya sebagai jihad. Tindakan ini membuat masyarakat dengan mudah menyudutkan ajaran agama Islam yang menyebabkan aksi terorisme ini.

Melihat sebuah tindakan atau pandangan, tak pernah dapat dilepaskan dari ideologi atau landasan kelompok. Saat ini, memang jaringan terorisme terbesar yang ditakuti oleh tiap negara adalah jaringan ISIS dan ideologi radikal untuk membuat dunia diatur dalam pemahaman Islam menurut mereka.

Tentunya, sekarang kita dapat membuat premis baru, tindakan terorisme berdasarkan ideologi kelompok.  Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam situsnya pun menjelaskan bahwa Dari faktor perbedaan ideologis dan pemahaman tentang agama yang berbeda-beda sampai kesenjangan sosial dan pendidikan yang membuat masyarakat lebih mudah untuk disusupi oleh jaringan-jaringan teroris.

Mari kembali menilik bagaimana ISIS berhasil membuat namanya dikenal oleh penduduk dunia. ISIS dengan pintar menggunakan kecanggihan teknologi yang dapat mendekatkan yang jauh. Melalui youtube misalnya. Mereka melakukan propaganda serta memberitakan kegiatan kelompok ISIS yang isinya dapat mengancam keselamatan tiap penduduk dunia.

Internet memang muncul dengan tawarannya yang menggiurkan. Penggunanya dapat mengakses semua informasi yang dia butuhkan hanya dalam waktu singkat saja.  Bila aksi terorisme telah menggunakan celah ini untuk merekrut anggota baru, berkomunikasi, serta menyebarkan ideologinya, maka gerbang utama yang harus dijaga adalah internet.

Mencegah Aksi Terorisme: Perekrutan dan Penyebaran

Mencegah sebuah aksi terorisme, menurut premis dalam tulisan ini adalah, mencegah penyebaran ideologi dari pihak teroris. Mereka umumnya ingin membuat perbedaan  menghilang dari dunia, contohnya saja ISIS yang ingin mengislamkan dunia.  Secara mudah, tiap orang harus memahami bahwa tindakan terorisme adalah membunuh kemanusiaan. Menghilangkan hak asasi setiap orang untuk hidup.

Menurut George Herbert yang memperkenalkan teori perkembangan manusia, ada fase di mana individu dikenalkan dengan nilai-nilai masyarakat serta meniru peran orang sekitarnya. Hal ini menjelaskan bahwa lingkungan berperan penting dalam menerapkan pemahaman anti terorisme.

Orang tua harus memberi pemahaman bahwa terorisme dapat menghilangkan nyawa orang tak bersalah

Orang tua atau keluarga menjadi sarana paling mudah bagi individu untuk belajar mengenai nilai-nilai masyarakat. Orang tua juga keluarga juga dipahami sebagai sarana pendidikan informal. Peran ini sangat penting untuk memberikan konsep sederhana bahwa terorisme sama saja dengan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah. Terorisme sama saja dengan perbuatan membunuh, dan itu di larang oleh undang-undang mau pun agama.

Pemuka agama, atau opinion leader harus menghindari hate speech

Perbedaan adalah mutlak di dunia ini. Mulai dari perbedaan jenis kelamin, perbedaan peran, hingga perbedaan agama atau sudut pandang. Setiap pemimpin kelompok, tidak boleh serta merta memandang kelompoknya lebih baik dan kelompok lain tidak.  Pemimpin kelompok harus dengan bijak melihat bahwa perbedaan adalah hal yang biasa dan justru baik adanya.

Menerapkan kurikulum formal mau pun informal anti-terorisme

Seperti yang pernah dilakukan oleh jaringan Gusdurian Yogyakarta yang bekerja dengan komunitas keagamaan, mereka melakukan kemah persaudaraan. Kegiatan ini menerapkan bahwa perbedaan agama tidak boleh membuat kita saling membenci. Hal ini dapat menjadi sarana, inspirasi baru untuk menerapkan bhineka tunggal ika di Indonesia

Melakukan gerakan anti-terorisme

Dilakukan dengan komunitas anti-terorisme, bisa saja dengan menggalakkan slogan teroris has no religion, atau secara aktif membuat karya melalui media yang menjelaskan bahwa terorisme adalah perbuatan yang tidak baik.

Literasi media: Mencari kebenaran

Dalam bahasa media, tindakan yang perlu dilakukan adalah melakukan literasi media. Hal ini dapat dilakukan dengan menjejali individu berupa informasi bahwa terorisme merupakan hal yang buruk. Pihak-pihak penting seperti guru, atau dosen harus memberikan pemahaman bahwa tidak semua konten baik adanya. Pengguna internet harus bisa dengan bijak menyaring informasi mana yang sifatnya fakta, opini atau bahkan propaganda. Pengguna juga harus diberi pemahaman menerapkan sistem double check mengenai informasi apapun yang ia terima melalui internet. Dengan begitu, mereka lebih siap mengakses internet.

Dengan